Oleh: Muzakir Umar
Source: https://www.facebook.com/notes/el_misbah/misbahul-ulum-sekarang-lebih-baik-atau-lebih-buruk-/677792108934772
Source: https://www.facebook.com/notes/el_misbah/misbahul-ulum-sekarang-lebih-baik-atau-lebih-buruk-/677792108934772
Saat duduk bersama para alumni maupun masyarakat, terkadang kita mendengar statment bahwa “Misbahul Ulum sekarang tak sebaik Misbahul Ulum tempoe doeloe”. Benarkah demikian?
Jangan pernah berpikir masa kita dulu lebih hebat, ataupun masa sekarang lebih bagus karena berbagai fasilitas yang lebih lengkap tanpa melihat fakta secara objektif.
Nah, saya mencoba membandingkan 2 periode pertengahan perjalanan dan fakta tentang Misbahul Ulum (tentunya versi saya). Periode pertama yaitu sejak kami menjadi santri tahun 2000 s.d tahun 2006 dan akan saya bandingkan denganperiode setelah kami tamat dari tahun 2006 s.d 2012 yang nantinya akan saya sebut periode II.
1. Pembangunan dan Insfrastruktur
Tahun 2000 jumlah WC yang aktif alias bisa dipakai tidak lebih dari empat, dua dibelakang Mabna Muntadhar yang hanya berani dipakai saat siang hari karena para senior sering menceritakan ada hantu di dua rumah pembuangan tersebut dan dua lagi di belakang asrama Darussalam, secara perlahan yayasan bidang pembangunan terus menambah rumah damai ini hingga berjumlah puluhan pada periode II, hana meutaturie pakek lee pih watee karap tamat.
Periode I, Insya Allah santri khusyuk shalat berjama’ah di Mesjid Fatimatul Basrah yang berlantai semen dan dinding triplek, sesekali “mereka” mengirim surat rahasia melalui sitar pembatas santri dengan santriah.
Bandingkan dengan periode II, dua mesjid berdiri megah, satu di gurun Sahara dan Fatimatul Basrah diganti dengan mesjid berlantai dua, dilantai pertama ada mini market, kartor yayasan, tempat rawat inap untuk santri dan lab komputer. Kemudian ukuran dapur sekarang sebesar stadion Camp Nou. Dari sisi fasilitas, sangat tidak relevan dibandingkan dengan periode I, sudah pasti periode I kalah telak dari berbagai sisi. Kalau dulu orang menyebut Misbahul Ulum ada desa di tengah hutan, sedangkan sekarang ada kota di tengah desa. Hahaha. Ntahiyaaa.
Kalau cerita fasilitas, jelaslah sekarang lebih woOow gitu. Jinoe kana infokus hai, laptop ka lee, jameun pentium II sagai, hahaha.
2. Pengurus Yayasan dan Majelis Guru
Semangat baru, muka baru dipadukan dengan para pendahulu jadilah pejuang semangat 45. Bila saya bandingkan dengan yayasan pesantren modern lain di Aceh. Maka, sistem dan semangat pengurus yayasan Misbaahul Ulum patut dibanggakan.
Mau tau tentang yayasan dulu? tanyakan kepada asatiz tempo dulu, mau tau yayasan sekarang tanyakan ke majelis guru sekarang, mau tau perbedaan majelis guru sekarag dan dulu tanyakan kepada yayasan dan diri Anda sendiri! tidak berani saya hahaha
3. Disiplin Santri
Pernah dengar santri memanjat kelapa jam 3 malam karena lapar?,
pernah dengar tiap malam puluhan telor ayam hilang di dapur umum?
Pernah dengar tiap ada jadwal big match sepak bola 30% santri hilang tengah malam?,
atau botak masal karena lari ke konser Dewa di masa darurat militer, bukan hanya santri, banyak santriah juga berpartisipasi demi melihat pentolan dewa di lapangan Hiraq.
Nah, hal-hal seperti itu sudah jarang terdengar saat periode II, mungkin saja karena disiplin lebih baik atau santrinya lebih patuh terhadap GDS. Terkadang dulu ada santri yang terbuka menantang gurunya secara tidak beradab, saya rasa periode kedua sudah berkurang. Kalaupun ada pasti melibatkan orang tua atau backing. Hehe
4. Mutu Bahasa
Coba komunikasi dengan bahasa Arab dengan alumni yang baru tamat, sama aja kayak kita2 yang dulu. Bahkan periode 2000-2006 pelajaran Balaghah yang katanya penting untuk memperindah bahasa tidak pernah diajarkan ke kami karena tidak ada pengajar. Datanglah ke Misbahul Ulum dan buktikan secara nyata! sistem pembelajaran dan muhadatsah bahasa Arab belum berubah dan Insya Allah kualitasnya bertahan walaupun santri bertambah, semoga saja lebih baik.
5. Prestasi
Periode I, prestasi paling membanggakan adalah satu orang santri mendapatkan medali emas di POPDA Sabang dan Perak di POPWIL tigkat Sumatera. Prestasi akademik waduh, masa konflik eeu, gak konsen belajar, haha. Pramuka juga tidak ada karena alasan keamanan.
Bandingkan dengan periode II, atlit silat MU juara umum di mana-mana, bukan hanya di Persimu Cup saat menjadi tuan rumah. Di Oemardyan, sabang dan Medan pun tampil sebagai juara umum. Bahkan Lhokseumawe pernah tampil sebgai juara umum POPDA karena sumbangan medali emas dari atlit silat didikan pendekar wibawa Ustaz Syukri Ali. Bahkan, mampu menembus partai final POPNAS di Yogyakarta.
Tapi, periode I, santrinya lebih bermental dan tidak manja, banyak yang ke luar negeri walaupun dana pas-pasan. Tidak takut ke melanjutkan pendidikan ke luar daerah dengan dana minim, itu perbedaan yang paling mencolok.
6. Jumlah Santri
Sudah pasti jauh lebih banyak. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat terhadap Misbahul Ulum dengan melihat peran alumni di tangah masyarakat, apalagi ada alumni yang menjadi pejabat atau publik figur maka dengan sendirinya kepercayaan masyarakat akan bertambah untuk menitipkan anaknya di Misbah.
Terlebih jika banyak santri Misbah yang juara MTQ tingkat Kabupaten/kota, apalagi tingkat provinsi, tidak bisa dibayangkan.
7. Penutup
Tentu saja perubahan dan kemajuan Misbahul Ulum tidak terlepas dari jerih payah pihak Yayasan dan Majelis Guru. sebagai alumni, jangan hanya duduk manis dan memandang dari kejauhan, berbuatlah sesuatu walaupun itu kecil, seperti mempromosikan Misbahul Ulum saat pendaftaran santri baru dibuka, bisa melalui media sosial maupun langsung turun ke lapangan. Insya Allah bernilai ibadah.
Mantan Ketua yayasan Syeikh Kertasih Suherman pernah berpesan “Misbahul Ulum perlu dibantu, kalau tidak bisa dibantu secara langsung silahkan bantu dengan doa, kalaupun tidak mau berdoa setidaknya jangan merusak Misbahul Ulum!”
Kakashi Sensei guru Naruto Kun mengatakan; “generasi selanjunya akan lebih baik dari kita jika mereka mau belajar dari pendahulunya”.
Jadi, apa yang bisa Anda berikan untuk Misbahul Ulum?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar